Senin, 18 April 2011

Tiga Lokasi untuk Klaster Industri Petrokimia

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menetapkan tiga lokasi sebagai pengembangan klaster industri petrokimia yakni di Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.

Menteri Perindustrian MS Hidayat, di Cilegon, Banten, Sabtu (16/1/2010) mengatakan, Banten akan dikembangkan sebagai klaster industri petrokimia olefin, Jawa Timur untuk industri petrokimia aromatik dan Kalimantan Timur untuk industri petrokimia berbasis gas. "Pengembangan industri petrokimia ke depan dilakukan dengan pendekatan klaster indutri sehingga tercipta peningkatan daya saing," katanya pada acara pemancangan tiang pertama peningkatan kapasitas produksi PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Pengembangan klaster tersebut dimaksudkan untuk memperkuat struktur industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dalam sistem rantai nilai yang terkait.

Untuk itu, tambahnya, pemerintah mendorong berbagai kalangan bisnis nasional untuk lebih mendayagunakan sumberdaya dalam negeri sebagai bahan baku industri. "Guna mendukung maksud tersebut pemerintah telah menyusun berbagai kebijakan di antaranya Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN)," kata Hidayat.

Berbagai kebijakan dalam bentuk peraturan perundangan tersebut, lanjutnya, diharapkan mampu mendorong kinerja industri nasional melalui kemudahan penyediaan bahan baku berbasis sumberdaya domestik.

Pada kesempatan itu menteri menyatakan, industri kimia, termasuk di dalamnya petrokimia nasional berpotensi dapat berkembang dengan baik karena masih terdapat "gap" antara pasokan dan permintaan produk kimia nasional.

Pada 2007, tambahnya, kapasitas produksi bahan kimia dalam negeri mencapai 37,67 juta ton dan pada 2008 naik menjadi 38,24 juta ton, sedangkan ekspor bahan kimia pada periode tersebut juga meningkat dari 5,2 juta ton menjadi 5,63 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan bahan kimia yang diimpor pada 2007 mencapai 3,7 juta ton dan 2008 juga mengalami peningkatan menjadi 3,8 juta ton. "Pertumbuhan konsumsi domestik produk kimia diperkirakan meningkat di masa mendatang seiring pertumbuhan ekonomi," katanya.

Lotte Akan Berinvestasi di Industri Petrokimia

Jakarta - Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat mengatakan perusahaan retail Korea Selatan, Lotte Group, berencana melakukan investasi pada industri petrokimia.

"Untuk 'naphta cracker' yang mau masuk Lotte dengan nilai investasi sekitar lima miliar dolar AS," katanya usai mencanangkan peringatan Tahun Kimia Internasional di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu.

Perusahaan yang dikenal sebagai pemilik jaringan Lotte Mart tersebut, menurut dia, saat ini sedang memilih lokasi untuk membangun sarana produksi bahan baku petrokimia.

"Dia sedang memilih lokasinya, antara Merak (Banten) atau Tuban (Jatim)," katanya tentang rencana realisasi investasi perusahaan Korea Selatan yang cakupan bisnisnya meliputi permen, minuman, makanan cepat saji, retail, hotel, jasa keuangan, bahan kimia berat, elektronika, teknologi informatika, konstruksi, penerbitan, hingga bisnis hiburan tersebut.

Ia juga mengatakan bila perusahaan itu bisa merealisasikan rencana investasi tahun ini maka, "Dalam lima tahun ini kita akan punya produksi untuk nafta dan kondensat".

Lebih lanjut, dia menjelaskan, pemerintah mengupayakan pembangunan unit-unit kilang minyak yang dapat memproduksi bahan dasar petrokimia seperti nafta dan kondensat untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri kimia.

Menurut dia, saat ini sudah ada tiga sentra produksi industri petrokimia yakni pusat produksi olefin di Banten dan Bontang (Kalimantan Timur) serta pusat produksi aromatik di Tuban (Jawa Timur) yang membutuhkan pasokan bahan baku secara berlanjut.

"Ini tentu butuh ketersediaan minyak dan gas, lahan memadai dan investasi yang besar," ujar Menteri Perindustrian.

Pemerintah, ia melanjutkan, menyediakan berbagai fasilitas dan insentif untuk menarik investasi pada kegiatan produksi bahan baku petrokimia yang dibutuhkan industri kimia.

Ia mengatakan pemerintah mendukung investasi pada kegiatan industri petrokimia dengan memberikan beberapa fasilitas investasi seperti keringanan pajak, bea masuk yang harmonis, serta fasilitas bea masuk ditanggung pemerintah dalam impor bahan baku dan bahan penolong yang belum diproduksi di dalam negeri.

Selain itu, ia melanjutkan, pemerintah juga memberikan insentif pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai bagi industri di kawasan ekonomi khusus, serta sedang merampungkan pembahasan mengenai rencana pemberian insentif investasi berupa pembebasan pajak ("tax holiday").

http://www.antarajatim.com/lihat/berita/58378/lotte-akan-berinvestasi-di-industri-petrokimia
  

Industri petrokimia pemakai gas alam dapat insentif

Untuk mengembangkan industri petrokimia, khususnya yang menggunakan bahan baku gas alam, pemerintah akan memberikan insentif fiskal bagi industri tersebut.

Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Rabu (14/11) mengungkapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 1 Tahun 2007 insentif fiskal yang diberikan berupa pengurangan PPh atau pajak penghasilan, penyusutan dan amortisasi yang dipercepat, dan kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 tahun dan tidak lebih dari 10 tahun.

Menurut Fahmi, Industri yang mendapat insentif yakni industri petrokimia yang berbahan baku gas alam atau dikenal dengan petrokimia berbasis metana (C1) antara lain industri amoniak, metanol, caprolactam, asam nitrat, amonium nitrat, hidrogen peroksida, dan industri pupuk termasuk pupuk majemuk dan NPK.

INDUSTRI PETROKIMIA

Produk petrokimia merupakan produk lanjut dari hasil pengolahan minyak dan gas bumi guna memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Produk petrokimia yang dihasilkan dari hasil pengolahan minyak bumi berupa naptha, dan kondensat adalah produk aromatik (benzene, toluene dan xylene) dan produk olefin (ethylene, propylene dan butadiene) yang merupakan bahan baku untuk industri sandang, karet, sintetis, plastik, dll.
Produk petrokimia yang dihasilkan dari pengolahan gas bumi adalah methanol, urea, ammonia yang merupakan bahan baku untuk industri perekat, pupuk, dll.
Industri petrokimia Pertamina yang berbahan baku minyak dan gas bumi antara lain Kilang Metanol di Pulau Bunyu Kalimantan Timur, Kilang Purified Terephthalic Acid (PTA) dan Kilang Polypropylene (Polytam) di Plaju, Sumatra Selatan, Kilang Paraxylene dan Benzene di Cilacap, Jawa Tengah.

Beberapa manfaat dari produk industri petrokimia :

A. Aspal
Manfaat produk petrokimia yang beragam tersebut tentu saja sangat besar
bagi masyarakat . Misalnya aspal, kita semua pasti mengenal dan merasakan
manfaatnya. Apa jadinya jika jalan tidak dilapis aspal? dimusim hujan becek,
dimusim kemarau berdebu.Kegunaan lain aspal digunakan untuk pelapis tanggul,
pelapis tahan air, sebagai bahan isolasi, pelapisa anti korosi pada logam
dan juga sebagai bahan campuran pada pembuatan briket batubara.

B. Lilin
Hampir disetiap rumah tangga ada lilin, sebagai cadangan bila lampu dari
PLN padam. Lilin jenis ini oleh pertamina diproduksi dengan nama Hard Semi
White Wax dan Fully Refined White Wax. Tapi selain untuk penerangan, kedua
jenis lilin tersebut juga dapat digunakan sebagai kertas lilin pembungkus,
bahan baku semir serta pengkilap lam\ntai dan mebel.

C. Polytam PP (Polipropilena Pertamina)
Kantong plastik, karung plastik, film, produk cetakan (moulding) dan tali
rafiaadalah produk yang sangat memasyarakat. Produk tersebut dibuat dengan
menggunakan bahan polytam pp. Pertamina kini memasarkan dua macam polytam
PP,yaitu Fill Grade -F600 dan Yarn Grade -F401.

D. Methanol
Methanol dapat digunakan sebagai lem untuk industri plywood (formaldehyde/
adhesive) bahan baku untuk pembuatan dimeti tereptalate, methylamines,
methycloride, methylmetha orylate, bahan bakar kendaraan bermotor sebagai
methytertiary buthylether, bahan bakar pesawat, bahan bakar jenis methyl
fuel, bahan pelarut jenis nitro cellulose, dyes, resin, insektisida,dehidra-
tor gas alam, dan sebagai bahan baku untuk industri protein sintesis dengan
fermentasi berkesinambungan.

E. Petrolium Cokes
Hati-hati dengan produk satu ini bukanlah sebagai minuman, atau merupakan
saudara kandung coca cola yang di America serikat populer disebut Cokes.
Bila cokes diproduksi dengan bahan dasar tanaman cola, maka petrlium cokes
tersiri dari dua macam yakni; Green coke merupakan produk samping dari
proses pengolahan residu untuk bahan dasar minyak. Green coke bermanfaat
sebagai bahan baku Calcined coke,yang berfungsi sebagai reduktor dalam
proses peleburan timah,bahan bakar padat atau bahan penambahan kadar karbon
pada industri logam.Satunya lagi adalah Calcined coke berguna sebagai elek
troda dalam proses pengolahan aluminium pada industri Kalsium Karbida
(CaC2), bahan baku industri elektroda grafit, bahan bakar padat atau bahan
penambah kadar karbon pada industri modern, dan sebagai unsur pengisi pada
industri baja (sebagai karbon).

F. Solvent
Pertamina memproduksi lima macam solvent, yakni;
- Low Aromatic White Spirit (LAWS) yang berguna sebagai pengencer cat dan
vernis, pelarut untuk warna cetakan, industri tekstil (printing), bahan
pembersih (dry cleaning solvent), bahan baku pestisida.
- Special Boiling Point (SBP-XX) yang berguna sebagai adhesive dan pelarut
karet, pelarut pada industri (cat dan tinner,tinta cetak,industri farmasi
seperti perekat pada salonpas), industri kosmetika.
- Special Gas Oil, digunakan pada industri farmasi, khususnya pembuatan
pil kina, sbagai solvent dalam proses ekstraksi kulit kina.
- Minasil-M, digunakan sebagai industri cat, thinner vernis, industri
tinta cetak, industri karet dan adhesive, dan industri farmasi.
- Pertasol CA dan CB, petasol CA banyak digunakan sebagai pengencer pad
acat, lacquers, venis, pelarut dan pengencer pada tinta cetak, komponen
dalam proses pembuatan karet pada pabrik ban dan vulkanisir, adhesive
seperti lem/gum, industri farmasi (kosmetika) dan industri cleaning dan
degreasing. sedangkan Pertasol CB banyak digunakan sebagai pengencer pada
cat, lascuers, vernis, pelarut dan pengencer tinta cetak, dry cleaning
solvent printing pada tekstil.

G. Processing Oil
Processing Oil terdiri dari dua macam yakni Minarex - B yang berguna,
pertama;sebagai processing oil pada industri telapak ban kendaraan bermotor,
bantalan jembatan, sol sepatu kanvas dan sol karet cetak. Kedua; platicizer
secunderpada industri selang PYC, kulit imitasi, sol lentur cetak PVC, dan
sebagai palarut pada industri tinta cetak. Paraffinic Oil 60 dan 95 berman-
faat sebagai processing oil pada telapak ban, sepatu dan sol karet, karpet
karet, pipa plastik, pengganti dioktilptalat pada industri tinta cetak.

H. Kimia Pertanian
Produk kimia pertanian terbagi menjadi dua macam, yakni; Tenac Stiker yang
bermanfaat sebagai bahan perekat dan perata pestisida. Sedangkan TB 192
berguna untuk menutup luka tanaman / bidang sadap tanaman karet, mencegah
pengeringan bidang sadap.

Keanekaragaman produk petrokimia diatas menunjukan bahwa kehidupan umat
manusia sulit dipisahkan dari hasil - hasil minyak bumi. Hari demi hari,
minggu demi minggu, produk petrokimia selalu menjadi dambaan kehidupan

Pengertian Hujan Asam

Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Istilah Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polusi industri di Inggris). Tetapi istilah hujan asam tidaklah tepat, yang benar adalah deposisi asam

Deposisi asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk surful dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.
Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa terkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Biasanya deposisi jenis ini terjadi dekat dari sumber pencemaran.
Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asap di dalam udara larut di dalam butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air hujan yang turun bersifat asam. Deposisi asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut ke dalam air hujan dan turun ke bumi. Asam itu tercuci atau wash out. Deposisi jenis ini dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran.
Hujan secara alami bersifat asam karena Karbon Dioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.

Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran bahan bakar fosil (BBF), peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah menjadi asam sulfat (Soemarwoto O, 1992).
Menurut Soemarwoto O (1992), 50% nitrogen oxides terdapat di atmosfer secara alami, dan 50% lagi juga terbentuk akibat kegiatan manusia, terutama akibat pembakaran BBF. Pembakaran BBF mengoksidasi 5-50% nitrogen dalam batubara ,40-50% nitrogen dalam minyak berat dan 100% nitrogen dalam mkinyak ringan dan gas.Makin tinggi suhu pembakaran, makin banyak Nox yang terbentuk.

Selain itu NOx juga berasal dari aktifitas jasad renik yang menggunakan senyawa organik yang mengandung N. Oksida N merupakan hasil samping aktifitas jasad renik itu. Di dalam tanah pupuk N yang tidak terserap tumbuhan juga mengalami kimi-fisik dan biologik sehingga menghasilkan N. Karena itu semakin banyak menggunakan pupuk N, makin tinggi pula produksi oksida tersebut.

Senyawa SO2 dan NOx ini akan terkumpul di udara dan akan melakukan perjalanan ribuan kilometer di atsmosfer, disaat mereka bercampur dengan uap air akan membentuk zat asam sulphuric dan nitric. Disaat terjadinya curah hujan, kabut yang membawa partikel ini terjadilah hujam asam. Hujan asam juga dapat terbentuk melalui proses kimia dimana gas sulphur dioxide atau sulphur dan nitrogen mengendap pada logam serta mengering bersama debu atau partikel lainnya.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Hujan_asam & http://anafio.multiply.com/reviews/item/5

Hujan Asam yang Memusnahkan Tanaman

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidak akan tiba hari kiamat hingga manusia dihujani dengan hujan secara merata, tetapi bumi tidak menumbuhkan sesuatu."1)

Revolusi industri yang ditandai dengan ditemukannya mesin uap telah menjadi babak baru bagi beragam penemuan-penemuan penting lainnya. Dan abad 20 ini telah menjadi bukti betapa ramainya penemuan-penemuan teknologi susulan, dan berikutnya telah mendorong mereka untuk mengkonsumsi bahan bakar fosil lebih banyak dari sebelumnya. Sejak tahun 1950 sampai 1979, konsumsi energi fosil dunia telah meningkat empat kali lipat dan terus meningkat sekarang ini. Efek yang ditimbulkan dari pembakaran bahan-bahan ini dalam industri dan mobil bercampur dengan uap air dan oksigen di atmosfer dan membentuk asam nitrat serta asam belerang. Kalau larut dalam hujan, asam-asam ini jatuh ke tanah dengan akibat hancumya hutan, tanaman pangan, dan berbagai organisme yang hidup di air tawar.2)

Pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan peradaban umat manusia yang diiringi dengan meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil telah memunculkan masalah krisis ekologi besar berupa pencemaran lingkungan skala dunia. Dalam batubara terdapat belerang atau sulfur (S) yang apabila dibakar berubah menjadi oksida sulfur. Masalah utama berkaitan dengan peningkatan penggunaan bahan bakar fosil adalah dilepaskannya gas-gas polutan penyebab hujan asam, seperti carbon dioksida (C02), oksida nitrogen (NOx) dan oksida sulfur (SOx).

Sebagian kota besar utama di dunia dewasa ini harus berjuang menanggulangi masalah pencemaran udara tingkat tinggi yang menjurus ke arah terjadinya hujan asam. Di samping itu, kabut asap pencemar udara dari kota-kota besar dan industri dapat terbang menuju ke tempat-tempat lainnya. Sebagai contoh adalah Los Angeles dan California yang tidak memiliki komplek industri berat dan hanya sedikit membakar batubara atau minyak bumi. Namun kedua kota tersebut merupakan kota besar yang paling dilanda asap dan kabut sejak sekitar tahun 1950an. Sejak tahun 1960-an, masalah ini telah menjadi lebih komplek.

Pada tahun 1970-an, para ilmuwan dari AS dan Kanada menemukan bahwa hujan dan salju asam jatuh di seluruh wilayah AS bagian timur, di Kanada bagian tenggara, dan di beberapa wilayah sekitar kota-kota di bagian barat. Pada tahun 1980-an, hujan asam menyebar ke wilayah bagian selatan dan barat hingga menyebrangi AS. Para ilmuwan telah berhasil mempelajari penyebab terjadinya hujan asam tersebut. Sumber S02 yang paling utama adalah di Mississipi bagian hulu dan lembah Ohio, keduanya merupakan tempat yang banyak terdapat pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara.

Senyawa SO2 yang dilepaskan ke udara berubah menjadi asam sulfat dalam waktu 2-3 hari, dan hujan asam yang diakibatkannya dapat Il)encapai wilayah sejauh 800-1.600 km.

gambar: visual.merriam-webster.com

Masalah hujan asam mulai terasa sejak awal tahun 1950-an. Masalahnya menjadi bertambah parah karena jumlah total SO2 yang terlepas ke udara terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah permintaan energi listrik. Sebagai akibatnya adalah terjadi peningkatan secara cepat derajat keasaman hujan sejak tahun 1960-an. Keadaan ini telah menimpa AS bagian timur laut serta beberapa bagian Kanada sebelah timur, Norwegia bagian selatan dan Swedia. Di daerah-daerah tersebut, sungai dan danau telah menjadi terlalu asam bagi ikan dan kehidupan lainnya. Hujan asam dapat menarik keluar logam beracun seperti merkuri dari sedimen sehingga masuk ke dalam air dan membahayakan kehidupan.

Sesungguhnya Allah telah menjadikan air sebagai sumber utama kehidupan. Kehidupan bumi sepenuhnya sangat tergantung dengan ketersediaan air bersih yang ada. Di dalam Al-Qur' an Allah menjelaskan:

"Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran". (QS Al-A'raf [7]:57)

"Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dan makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak". (QS Al-Furqan [25]:48-49)

Meski Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa air hujan itu turun dari langit, namun setiap orang telah mengetahui bahwa air yang turun dari langit itu sebenarnya berasal dari bumi.3) Secara alami, hujan memunyai derajat keasaman pH sekitar 5,6. pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Apabila hujan dengan pH kurang dari 5,6, apalagi jika sampai di bawah 5,1 maka akan berdampak negatif dan menyebabkan berbagai kerusakan, di antaranya sebagai berikut.

Dapat mematikan berbagaijenis tanaman dan binatang.

Pada ibu hamil, akan menyebabkan bayi lahir prematur dan meninggal.

Memengaruhi kualitas airpermukaan

Merusak tanaman

Air hujan asam itu bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan seperti properti, monumen/patung, bahan logam seperti mobil atau komponen bangunan mobil.

Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga memengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan.

Semua efek yang ditimbulkan itu bukan hanya memunculkan efek material, namun juga akan berdampak secara sosial. Betapa miripnya kondisi itu dengan apa yang disebutkan dalam berbagai nubuwat. RasulullahShallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Kiamat tidak akan terjadi sehingga langit menurunkan hujan, tapi air hujan ini tidak bisa mendorong dibangunnya rumah-rumah tanah liat yang kuat dan tidak menyebabkan berhimpunnya penduduk perkampungan, namun hanya bisa mendorong dibangunnya rumah-rumah dari bulu. 4)

Dan diriwayatkan dari Anas ra, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidak akan tiba hari kiamat hingga manusia dihujani dengan hujan secara merata, tetapi bumi tidak menumbuhkan sesuatu. "'5)

Dalam hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Paceklik bukanlah berarti kalian tidak mendapat hujan, tetapi paceklik adalah, kalian mendapat hujan, tetapi tanah tidak bisa menumbuhkan apa-apa.6)

WaIlahu a'lam bish shawab, nampaknya tidak ada penjelasan yang lebih tepat tentang hakikat hujan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam riwayat - riwayat di atas melainkan hujan asam ini.

http://www.akhirzaman.info/tanda-akhir-zaman/nubuatan/1091-hujan-asam-yang-memusnahkan-tanaman.html

Hujan Asam

HUJAN ASAM

Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita mengenal hujan yang memang hampir kita jumpai setiap hari. Hujan secara umum bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah (H2CO3). Jenis asam dalam hujan yang biasa terjadi ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Sedangkan, hujan asam yang kita kenal dapat diartikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Istilah Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polusi industri di Inggris (Anonim, 2001). Tetapi istilah hujan asam tidaklah tepat, yang benar adalah deposisi asam. Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa kerkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Biasanya deposisi jenis ini terjadi dekat dari sumber pencemaran. Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan.

Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.




Pada dasarnya, Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran Bahan Bakar Fosil (BBF), peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%. Sedangkan zat nitrogen oxides 50% terdapat di atmosfer secara alami, dan 50% lagi juga terbentuk akibat kegiatan manusia, terutama akibat pembakaran BBF. Pembakaran BBF mengoksidasi 5-50% nitrogen dalam batubara , 40-50% nitrogen dalam minyak berat dan 100% nitrogen dalam mkinyak ringan dan gas. Makin tinggi suhu pembakaran, makin banyak Nitrogen oxides yang terbentuk. Senyawa SO2 dan NOx ini akan terkumpul di udara dan akan melakukan perjalanan ribuan kilometer di atsmosfer dan di saat mereka bercampur dengan uap air akan membentuk zat asam sulfat dan nitrat yang mudah larut. Saat air hujan turun, zat-zat tersebut ikut larut dan jatuh ke bumi.



Terjadinya hujan asam harus diwaspadai karena dampak yang ditimbulkan bersifat global dan dapat menggangu keseimbangan ekosistem. Hujan asam memiliki dampak tidak hanya pada lingkungan biotik, namun juga pada lingkungan abiotik, antara lain :




Danau

Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya species yang bertahan. Jenis Plankton dan invertebrate merupakan mahkluk yang paling pertama mati akibat pengaruh pengasaman. Apa yang terjadi jika didanau memiliki pH dibawah 5, lebih dari 75 % dari spesies ikan akan hilang (Anonim, 2002). Ini disebabkan oleh pengaruh rantai makanan, yang secara signifikan berdampak pada keberlangsungan suatu ekosistem. Tidak semua danau yang terkena hujan asam akan menjadi pengasaman, dimana telah ditemukan jenis batuan dan tanah yang dapat membantu menetralkan keasaman.



Tumbuhan dan Hewan

Hujan asam yang larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut sebelum pohon-pohon dapat menggunakannya untuk tumbuh. Serta akan melepaskan zat kimia beracun seperti aluminium, yang akan bercampur didalam nutrisi. Sehingga apabila nutrisi ini dimakan oleh tumbuhan akan menghambat pertumbuhan dan mempercepat daun berguguran, selebihnya pohon-pohon akan terserang penyakit, kekeringan dan mati.


Sebenarnya, ada cara yang sangat ampuh untuk mengurangi hujan asam, yakni dengan pengurangan penggunaan minyak bumi (Bahan Bakar Fosil), namun, karena sampai sekarang manusia masih tergantung pada BBF tersebut, maka cara tersebut tidaklah efektif bagi masyarakat yang masih butuh BBF. Oleh sebab itu, Di Amerika Serikat, banyak pembangkit tenaga listrik tenaga batu bara menggunakan Flue gas desulfurization (FGD) untuk menghilangkan gas yang mengandung belerang dari cerobong mereka. Sebagai contoh FGD adalah wet scrubber yang umum digunakan di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya.Wet scrubber pada dasarnya adalah tower yang dilengkapi dengan kipas yang mengambil gas asap dari cerobong ke tower tersebut. Kapur atau batu kapur dalam bentuk bubur juga diinjeksikan ke dalam tower sehingga bercampur dengan gas cerobong serta bereaksi dengan sulfur dioksida yang ada, Kalsium karbonat dalam batu kapur menghasilkan kalsium sulfat ber pH netral yang secara fisik dapat dikeluarkan dari scrubber. Oleh karena itu, scrubber mengubah polusi menjadi Kalsium Sulfat.
Diterbitkan di: 15 Oktober, 2010


Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2063235-hujan-asam/#ixzz1JwiNfTKr